Islamic Development Bank Jalin Kerjasama dengan UNAIR

image
By usi_pasca On Monday, January 09 th, 2017 · no Comments · In

UNAIR NEWS – Dalam lima tahun terakhir, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga dipercaya oleh Islamic Development Bank (IDB) untuk menjalin kerjasama. Tahun ini, FEB dipercaya oleh IDB untuk mengundang para peneliti dari berbagai negara di dunia untuk berbagi ide seputar pengelolaan ‘social capital’.

Bentuk dari tukar pikir ide antar peneliti lintas negara tersebut bermacam-macam. Seperti yang telah diselenggarakan pada Senin-Selasa (18-19/10) yakni penyelenggaraan call for paper dan “Thematic Workshop On Islamic Cooperatives as The Economic Organization of Social Capital”. Acara bertempat di FEB UNAIR, diikuti oleh puluhan peneliti yang berasal dari Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Nigeria, Afrika, Pakistan, dan Indonesia.

“Kalau negara hutang terus seperti yang terjadi selama ini, yang menanggung bebannya anak cucu kita. Di Indonesia bayi lahir langsung menanggung hutang, kalau dilihat dari besar hutang Indonesia dibanding besar jumlah penduduk. Padahal ada alternatif lain yang sebetulnya sudah lama ada di Indonesia,” ujar Nisful Laila, SE.,M.Com, Wakil Dekan III FEB UNAIR.

“Degan adanya realitas yang seperti itu, kita dipercaya oleh IDB untuk mengundang para peneliti dari seluruh dunia, dunia islam terutama, untuk berbagi ide mereka terkait pengelolaan ‘social capital’, bagaimana optimalisasinya, dan juga bagaimana memitigasi resiko kalau ada resikonya. Hal lain yang di diskusikan adalah bagaimana best praktices pengelolaan social capital di masing-masing negara peserta workshop” lanjutnya.

Nisful menambahkan, konsep sosial capital telah menjadi isu kekinian di lingkup internasional. Sebab, pengelolaan keuangan dengan konsep social capital ini, memiliki ciri from local for local. Jadi dana dari masyarakat Surabaya, misalnya, akan digunakan untuk mendanai keperluan masyarakat Surabaya juga. Berbeda dg konsep bank.

Contoh institusi keuangan dengan social capital adalah koperasi syariah atau yang lebih umum dikenal dengan Baitul Maal wa at-Tamwil (BMT), dimana sumber dananya bisa berasal dari dana-dana zakat, infaq, sodaqoh, dan wakaf, disamping dana simpanan masyarakat lainnya.  Konsep pendanaan dengan social capital tersebut bisa digunakan untuk menjalankan pembangunan di Indonesia yang selama ini dilakukan dengan hutang ke luar negeri dan terbukti memberatkan negara.

“Dengan mengoptimalkan social capital, negara tidak dibebani dengan bunga yang harus dibayar setiap kurun waktu tertentu. Ini jelas potensi yang luar biasa, seperti halnya potensi zakat yang sekarang ini banyak diberi perhatian pemerintah sebagai salah satu sumber pendanaan pembangunan. Sekarang kan orang yang sudah bayar zakat, pajaknya bisa dikurangi. Artinya, itu sudah diakui sebagai kontribusi masyarakat dalam pembangunan” tambahnya.

Regulasi dari social capital sudah ada saat ini, seperti dibentuknya koperasi syariah berbentuk BMT. Pemerintah selama ini memang lebih memperhatikan bank dibanding koperasi, sebab regulasi bank begitu lengkap hingga bisa tumbuh berkembang. Sementara social capital, baru belakangan ini ditawarkan kepada pemerintah untuk menjadi alternatif pembiayaan negara.

Nisful menambahkan, social capital juga relatif aman, tidak mengandung banyak resiko, juga murah karena tidak mengandung bunga. Konsep ini memerlukan dukungan berbagai pihak untuk bisa telaksana secara menyeluruh. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *